utopis.id

Pengamen asal Ternate, Irfan Ervian (kanan), dan Samuel Nainggolan di Kelurahan Sei Panas, Kota Batam. (Foto: Bintang Hasibuan)

Irfan: Urat Leher dan Betis Kuandalkan untuk Mengisi Perut dan Belajar Memaknai Hidup

Malam hari itu di tengah hujan rintik-rintik di Kota Batam, selepas wawancara, berulang kali saya menyodorkan uang kepada Irfan Ervian dan Samuel Nainggolan, tetapi mereka menolak. Tidak tahu apa alasannya. Barangkali karena mereka hanya mau menerima uang dari mengamen, bukan mengemis.

 

Cuaca malam di atas langit Kelurahan Sei Panas, Kota Batam, Kepulauan Riau, sedang gerimis. Dua pemuda, Irfan Ervian (21) dan Samuel Nainggolan (20), sedari jauh sudah terlihat berlari-lari kecil, kemudian mendekat ikut berteduh di pojokan teras toko swalayan. Waktu itu mereka baru pulang dari mengamen, “mengasah mental”, melakukan pertunjukan musik rutin di kedai-kedai minum kelas menengah.

 

Hari itu, saya meyakinkan Irfan untuk wawancara tentang kehidupan anak-anak marginal, terutama soal dirinya, yang nekat datang mengembara ke Batam, meninggalkan kampung halamannya di Ternate, Maluku Utara, hanya untuk sekadar bergelut di jalanan mengecap kerasnya dunia. Dia pun bersedia memulai kisahnya.

 

Selepas lulus SMP di Ternate, dia ingin melanjutkan pendidikan menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). Berbagai latihan fisik sudah dia lakukan untuk meraih mimpinya itu. “Sebagus-bagusnya rencana pasti ada saja yang menghambat. Semua keluarga mendukung cita-citaku. Bapak dan ibu juga sudah menabung untuk keperluanku mendaftar pendidikan. Mendadak bapak jatuh sakit, dan butuh biaya banyak. Ya, sudah, aku lebih milih bapak hidup ketimbang aku jadi tentara,” kata Irfan.

 

Tak lama sang ayah mulai sembuh. Irfan bersyukur mendengar kabar itu. Masa itu dia masih bertahan mengamen. Dia tidak mau menyusahkan orang tuanya yang sedang kesulitan keuangan. “Ada kawan nawarin kerja di Batam. Katanya gampang cari uang,” katanya. “Sebelum mengamen, semua pekerjaan aku coba di Batam. Sulit. Akhirnya pergaulanku pun mulai tidak karuan. Hasilnya, mimpiku itu masih bergantung di rumah [Ternate], sementara aku sekarang sudah terbang ke sini berjuang bertahan hidup.”

 

Karena di Batam tidak menemukan pekerjaan seperti angan-angannya, akhirnya dia memberanikan diri untuk mengamen. Mulai dari warung kopi hingga persimpangan lampu merah dia jelajahi. Hasil pertamanya mengamen seluruhnya digunakan untuk membeli alat musik pertamanya, gitar mungil dengan empat senar. “Dulu awalnya pinjam gitar kawan. Eh, satu hari coba ngamen dapat Rp70 ribu, cukup buat ukulele. Lumayan, langsung beli di Jodoh,” kata Irfan.

 

Kerja sebagai penghibur di jalanan lama-kelamaan dia lakoni sepenuh hati. Dia memutuskan untuk mulai serius memilah-milah jenis lagu yang akan dinyanyikan. Setiap hari dia berlatih dengan gitar mungilnya itu di luar waktu mengamen. “Tidak tahu kenapa keadaan di jalanan membentuk karakter. Mungkin karena kehidupan itu keras. Nah, intinya aku tertarik dengan musik dan cara hidup punk. Aku akan belajar hidup dengan memahami arti dari punk itu sendiri,” katanya.

 

Perjalanan selama tiga tahun hidup di jalanan membuat dia memikirkan banyak hal. Dia merasa beruntung, karena kehidupan keras yang dia lihat dan rasakan sendiri telah mengilhaminya menulis syair atau sajak. Bahkan, dari beberapa karya tulisnya sudah ada yang menjadi lagu. Rata-rata dari karyanya yang menarik dan sempat saya dengar pada malam 5 September 2020, itu semuanya bernada keroncong, bercerita tentang orang-orang miskin.

 

“Dengan segala keterbatasan aku berusaha tetap berpikir kritis. Aku memang tidak pintar, jarang baca buku karena tidak sanggup membelinya. Tetapi apa yang aku lihat saja sepertinya masih kesulitan jadi pelajaran,” katanya. Ketika ditanya apakah dia memiliki ponsel pintar untuk menambah wawasan selain membeli buku, “Makan saja susah, Bang,” jawabnya sambil menggaruk-garuk kepala.

 

Sebetulnya dia tidak melulu menulis tentang masalah sosial, melainkan juga punya satu lagu cinta teruntuk mantan kekasihnya dulu. saya mendengar lagu itu, berjudul “Perempuan Jangan Berpakaian Seksi,” yang kalau diulik dari segi lirik sangat kritis dan menarik. Lagu tersebut tidak bermaksud merendahkan pekerjaan perempuan malam yang sering berbaju seksi. “Setiap malam pakai baju minim, apa tidak dingin? Aku kasihan saja, Bang. Bukan aku bilang pekerjaan itu tidak baik. Intinya di sini aku kritik itu baju minim mereka. Kan, sering itu karena dingin mengundang ‘ingin.’ Kalau bisa, pakaian kerja yang wajarlah. Ini caraku memanusiakan manusia,” katanya.

 

Menurut dia, keadaan membentuk karakter anak jalanan menjadi pribadi yang selalu waspada. Di lingkungan tempat dia tinggal ini semua orang lapar dan sewaktu-waktu bisa hilang akal. Mereka menyebutnya “rimba kalangan bawah.” Bertahan hidup di tengah keadaan yang demikian rawan, membuat anak jalanan seperti Irfan membentuk kelompok-kelompok baru untuk berlindung. Solidaritas adalah landasan utama yang teramat penting bagi mereka untuk bertahan hidup. Lingkaran pergaulan yang solider, satu rasa, satu nasib, dan sepenanggungan ini mereka sebut kelompok “Punk.”

 

Mereka berjumlah 12 pengamen dan bermarkas di Ruko Lama, Bengkong Indah, Batam. Oleh pemilik gedung, para pengamen ini dibebaskan untuk menempati bangunan dengan syarat wajib menjaga dan bertanggung jawab atas semua kerusakan gedung. “Awalnya kami dulu main masuk saja. Rupanya yang punya tahu, kirain mau diusir, ternyata dia orang baik. Kami boleh tinggal di sana selama tidak aneh-aneh,” katanya. Sekarang mereka sudah mulai merancang macam-macam usaha kolektif di sana. “Rencana awal usaha sablon. Ini lagi kumpulin uang buat modal. Kami juga harus belajar nyablon,” kata Irfan.

 

Apabila semua yang mereka lakoni sekarang ini lancar, harapannya itu dapat menghapus stigma negatif masyarakat terhadap orang-orang yang bertahan hidup di jalanan. Dia mengaku sudah kenyang dengan anggapan miring masyarakat tentang anak punk. Kerap kali dia berusaha mencoba tidak peduli, tetapi tetap saja tidak bisa. “Kami ini selalu dianggap kriminal. Dianggap maling sekaligus tukang buat onar. Padahal, aku tidak mencuri dan bukan seorang kriminal. [Mengamen] ini, kan, pekerjaan namanya. Urat leher sama betis itu yang kuandalkan buat isi perut sekaligus belajar memaknai hidup. Aku tidak pernah memaksa orang memberikan aku uang, aku tidak menodong. Kalau mau beri, ya silakan. Kalau tidak, juga tidak masalah. Punk itu bebas dan tidak memaksa, Bang,” katanya. Banyak hal tentang kehidupan anak punk yang tidak masyarakat tahu karena hanya memandang dari luar.

Kata Irfan, dalam satu hari dia mengamen, dia harus berjalan kaki sekitar 5 kilometer sampai 7 kilometer. Rutenya mulai dari Simpang Bengkong Harapan (Simpang Pantek) terus menuju ke Sungai Panas melewati Bengkong Kolam, lalu terus berjalan kaki lagi ke titik awal. “Kami putari jalan, Bang. Ketemu lapak bisa ngamen, kami berhenti. Setiap hari kami lakukan. Nanti libur cuma kalau benar-benar sakit saja,” katanya.

Hal lainnya yang tidak banyak orang tahu adalah soal berbahayanya kehidupan anak jalanan. “Kami pernah dikeroyok hampir mati. Salah paham sebenarnya, tetapi hampir hilang nyawaku,” kata Irfan, sembari memperlihatkan sejumlah bekas luka di kepala hingga sekujur tubuhnya. Pada hari nahas itu, “Aku modal nekat ke RSBK. Tidak punya duit, tetapi masih mau hidup,” katanya. “Paman Basri-lah semua yang biayai kami. Memang kalau kami ada masalah, dia pasti selalu membantu.”

 

Irfan berkata, “Punk itu bagiku kebersamaan, Bang. Solidaritas. Aku kagum dengan anak punk. Salah satu contohnya Bang Acil, sekarang dia di Medan. Kemarin waktu dia nikah di Medan, teman-teman punk dari Pulau Jawa, dari mana-manalah itu, sampai datang ke sana. Nah, cobalah pikir. Mereka memang punya duit? Cuma ngamen, sama seperti aku. Tetapi ketika sudah berbicara soal teman, apa pun akan dilakukan.”

 

Malam hari itu di tengah hujan rintik-rintik di Kota Batam, selepas wawancara, berulang kali saya menyodorkan uang kepada Irfan Ervian dan Samuel Nainggolan, tetapi mereka menolak. Tidak tahu apa alasannya. Barangkali karena mereka hanya mau menerima uang dari mengamen, bukan mengemis.

 


Berita khas ini saya tulis di HMStimes pada tahun 2020.

Liputan Eksklusif

Jurnalisme Telaten

Utopis adalah media siber di Kota Batam, Kepulauan Riau. Etos kerja kami berasas independensi dan kecakapan berbahasa jurnalistik.

© 2022 Utopis.id – Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman Utopis.