utopis.id

MOSAIC FEST by Anka Enterprise. Foto: Restu Bumi.

Bernostalgia dengan Musik Masa Remaja

Bicara soal konser musik di Batam, Kepulauan Riau, rasa-rasanya takada yang terlalu menonjol. Kota ini memang sejatinya dibangun untuk kepentingan industri dengan tujuan menggaet sebanyak mungkin investor. Namun, ekspresi manusia selamanya tak mungkin dapat dibendung, dan musik jadi salah satu contohnya.

 

BEBERAPA orang menganggap festival atau konser musik tak ubahnya ibadah. Ia hadir sebagai medium yang mempertemukan artis dengan para penggemarnya. Hubungan keduanya terjalin berkat sebuah karya yang diciptakan sekaligus dinikmati bersama.

 

Bicara soal konser musik di Batam, Kepulauan Riau, rasa-rasanya takada yang terlalu menonjol. Kota ini memang sejatinya dibangun untuk kepentingan industri dengan tujuan menggaet sebanyak mungkin investor. Namun, ekspresi manusia selamanya tak mungkin dapat dibendung, dan musik jadi salah satu contohnya.

 

MOSAIC FEST by Anka Enterprise jadi bukti penguat. Festival musik yang digelar di Club House Palm Spring, Batam, Sabtu 24 September 2022 ini tampak berupaya menghadirkan lebih dari satu genre musik. Hasilnya tentu saja menarik.

 

Sedari gerbang dibuka pukul 14.00 WIB, MOSAIC FEST langsung menyuguhkan penampilan tiga skateborder. Setengah jam kemudian, penonton diajak berdansa lewat tangan dingin Disjoki, Cheno yang memainkan piringan hitamnya.

 

Satu jam berselang, MOSAIC FEST lalu menampilkan Expired Day dan Diary of Einstein lewat hentakan drum dan lead gitar ala pop punk. Penampilan keduanya tentu saja membawa suasana nostalgia, mengingat musik melodic dan pop punk sempat menggandrungi remaja di Batam medio 2012 hingga 2014. Yang tak kalah menarik, panggung juga diberikan kepada trio pop pendatang baru: Proyek Tiga Roda. Tiga sekawan ini cukup berhasil mengajak penonton bergerak membangun irama.

 

Untuk menjaga tensi penonton, Pers Radio memainkan perannya lewat subgenre electronic dance music (EDM). Penonton seolah diajak larut oleh Nu-disco yang diputar lewat piringan hitam.

Setelah menyuguhkan musik pop dan electro, MOSAIC FEST berlanjut ke ritme yang lebih menghentak. Penampilan Truthless dengan melodic hardcore-nya sontak membuat kerumunan bergemuruh. Ditambah lagi dengan kehadiran Heartfelt yang menyalakan api mosh pit penonton.

 

Tensi kian tinggi saat Raja Kapor naik ke atas panggung. Band stoner rock heavy metal ini jelas membuat mosh pit dan headbang kian purna. Seolah ingin menghindari ledakan emosi penonton menuju klimaks, MOSAIC FEST menarik tuas hand brake. Lewat penampilang Fall In Autum, tensi penonton diajak sedikit mereda dengan musik alternative rock-nya.

 

Panggung hiburan MOSAIC FEST kemudian diubah menjadi lantai dansa oleh Batam OrcheSka. Melodi dari terompet dan tenor sax yang dimainkan Batam OrcheSka yang mendayu serupa sihir, berhasil mengajak penonton berdansa ria.

 

Festival musik kali ini kian ramai saat layar di atas panggung memunculkan nama Switch On. Band Pop Punk yang eksis sejak 2010 ini tentu tak lagi asing bagi penikmat musik di Batam. Sehingga penampilannya di MOSAIC FEST seakan membawa nuansa nostalgia. Hal serupa juga berlaku saat Save Drama for Mama menguasai panggung.

 

Di penghujung acara, Threesixty lalu unjuk gigi. Meski datang tanpa formasi sempurna dengan absennya Kocu, penampilan Otoy, Febry, dan Robby tetap bersambut antusias penonton MOSAIC FEST. Dari sekian tembang yang dibawakan Threesixty, tentu saja lagu Dewi yang membuat penonton bergemuruh.

 

Alasannya, lagu ini sempat digandrungi anak muda medio awal 2010 yang sedikit banyak turut melambungkan nama Threesixty sekaligus. Lewat lagu ini pula para remaja tanggung bersenandung dan mengganti nama Dewi dengan nama pujaan hatinya masing-masing.

 

***

 

Terlepas dari itu semua, MOSAIC FEST tampak berhasil menjadi festival musik dengan skala besar. Keberhasilan ini pun tidak melulu soal jalannya acara yang lancar hampir tanpa kendala. Melainkan juga soal panitia yang memberi ruang proporsional bagi artis daerah dengan sang bintang tamu yang notabene lebih dikenal luas.

 

Penamaan festival ini pun selaras dengan jalannya acara. Festival ini seolah rampung mengumpulkan kepingan berupa beragam genre musik menjadi satu sebuah karya: MOSAIC FEST.

 

Sekretaris Manejemen MOSAIC FEST, Andhi Ockta, mengatakan, festival itu terlaksana lewat keresahannya yang sudah lama vakum dari kegiatan giggs selama pandemi. Namun, dua tahun belakangan kegiatan musik mulai bermunculan, yang disambut pula dengan animo tinggi masyarakat.

 

Ide itulah yang kemudian dia susun dan rencanakan bersama rekan-rekannya. Dalam gambaran awal, ide yang muncul adalah giggs yang dibuat tak cuma soal musik satu genre saja. Melainkan konser yang menghadirkan berbagai genre musik yang dapat dinikmati semua kalangan.

 

“MOSAIC FEST secara khusus juga bertujuan membakar semangat teman-teman band di Batam untuk tetap eksis dan terus berkarya. Makanya ada 10 band lokal Batam dari berbagai genre yang kami hadirkan. Kesepuluhnya bisa tampil sebenarnya memang lewat beberapa penilaian. Salah satunya punya karya yang memang layak didengar masyarakat secara luas, dan Mosaic Fest jadi salah satu medium untuk mewujudkan itu,” katanya kepada utopis.

 

Dia menyebut, pihaknya menargetkan seribu penonton yang datang ke MOSAIC FEST, meski realitanya jumlah orang yang datang bertengger di angka 700-an. Namun, hal itu dianggpanya tak jadi soal lantaran memang sejak awal target penonton hanya 700 orang saja. “Ya lewat kesepakatan bersama kami berharap penontonnya bisa sampai seribu orang waktu itu. Jadi sebenarnya ekspektasi sudah terwujud,” katanya lagi.

 

Disinggung mengenai dua kegiatan musik skala besar yang digelar di Batam beberapa waktu lalu dan menuai beragam respons, Andhi bersikap netral. Menurutnya, tiap penyelenggara kegiatan pasti ingin acara yang digelar berjalan sempurna. Namun, realitanya memang bakal menemukan kendala cuaca atau masalah teknis yang membuat acara jadi berantakan.

 

Pihaknya justru berterima kasih dengan dua kegiatan musik sebelumnya yang menuai berbagai respons. Hal yang akhirnya membuat MOSAIC FEST belajar memilah banyak hal untuk mengurangi kesalahan-kesalahan saat acara.

 

“MOSAIC FEST pengin menepis stigma konser musik itu buruk. Karena kita tidak bisa menafikan juga kalau dua acara musik besar sebelumnya mungkin saja meninggalkan trauma buat penonton buat datang ke konser,” kata Andhi.

 

Dia pun sedikit membocorkan kalau MOSAIC FEST kontinyu, meski tak berani menyebutkan kapan dan siapa artis yang bakal didatangkan. Namun, dia sedikit membocorkan bahwa kemungkinan artis yang akan dibawa adalah mereka yang belum pernah manggung di Batam. “Tinggal kekuatannya saja yang diukur. Sama seperti mengundang Threesixty kali ini, basis pendengarnya kan cukup kuat di Batam.”

 

Andhi berkisah, saat pihaknya selesai membangun komunikasi dengan band-band yang ada di Batam untuk bisa hadir di MOSAIC FEST dan mendapat respon bagus, tercetuslah ide mengundang Threesixty. Hal itu lantaran band asal Lampung itu tercatat terakhir manggung di Batam pada 2014 lalu.

 

Gelaran skena musik Skatepunk di Gedung INKAI di bilangan Baloi, Batam itu bahkan mendapat animo penonton besar di luar ekspektasi. Hal yang kemudian membuat MOSAIC FEST kembali mengundang Threesixty tampil di Batam lagi.

 

Di luar itu semua, mewakili MOSAIC FEST, Andhi meminta maaf kepada penonton maupun artis jika dalam gelaran festival musik kemarin belum sepenuhnya menjawab ekpektasi. Dalam catatannya, secara internal seluruh tim sudah bekerja profesional dan masing-masing mengerti tanggung jawabnya.

 

Di sisi band yang tampil pun sudah paham bagaimana mengatur alat-alat dan mempersiapkan diri sebelum tampil. Sementara penonton juga tampak menikmati semua musik yang ditampilkan tiap band. “Artinya karya-karya band Batam sudah berada di jalur yang tepat, penerimaan masyarakat atau penonton sudah positif,” kata Andhi.

 

Seolah serupa tapi tak sama, MOSAIC FEST dan Threesixty seperti punya misi yang sama: mendobrak stigma. Band asal Kota Panjang, Lampung ini ternyata lahir dari keresahan akan kondisi sosial yang lekat dengan kriminalitas.

 

Lampung bahkan disebut-sebut oleh banyak pemberitaan sebagai daerah penghasil begal. Hal yang juga diamini oleh Otoy, sang drummer. Dia berkisah, salah satunya alasan pembentukan Threesixty adalah upaya mereka menolak stigma yang melekat pada Lampung.  “Kami ingin membuktikan kalau Lampung isinya tak cuma penjahat. Lewat musik kami mencoba mengharumkan nama Lampung juga,” katanya usai manggung di MOSAIC FEST.

 

Lebih jauh, lewat dari satu dekade berkarya dengan mengusung genre skatepunk, dalam single terbarunya Threesixty beralih pada genre alternative pop. Hal yang kemudian dijelaskan Otoy bahwa Threesixty sebenarnya tidak berubah genre yang telah melambungkan nama mereka.

 

Dia menjelaskan, perubahan itu adalah upaya mereka mengeksplorasi musik lebih dari yang sebelumnya. “Akar musik kami tetap punk, dan itu kami buktikan dengan pemilihan lirik di single itu. Karena ya identitas Threesixty itu kan sebenarnya di lirik, kalau untuk musiknya sendiri mungkin sekarang lebih karena mengikuti zaman,” kata Otoy.

 

Sementara menurut Febry, vokalis sekaligus bassist, perkembangan musik sekarang yang cepat turut memengaruhi karya-karya yang mereka buat saat ini. Namun, kelahiran single Serein diakuinya sudah diperhitungkan dengan matang. “Single itu akhirnya dirilis juga sudah melewati pertimbangan dari segi sound, efek gitar, dan lainnya. Semua sudah kami pikirkan, jadi single itu lebih ke pendewasaan saja sebenarnya,” katanya.

 

Dia menuturkan, peluncuran single Serein jadi percobaan bagi Threesixty dalam mengembangkan diri. Sementara untuk penerimaan dari penggemar, Threesixty merasa nothing to lose. Diakuinya single Serein adalah upaya maksimal Threesixty mencoba untuk berkarya mengeluarkan musik yang sebenarnya dinikmati oleh penciptanya sendiri. “Perubahan juga sebenarnya karena kami sudah tua, sih ya [haha]. Sudah gak kuat mau teriak-teriak lagi kalau tiap manggung,” kata Febry.

 

 

 

Liputan Eksklusif

Jurnalisme Telaten

Utopis adalah media siber di Kota Batam, Kepulauan Riau. Etos kerja kami berasas independensi dan kecakapan berbahasa jurnalistik.

© 2022 Utopis.id – Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman Utopis.