utopis.id

Suasana pemakaman Andini Putri Aminarti (17), siswi SMA Negeri 15 Batam yang meninggal dunia usai tertimpa pohon kelapa. Foto: Fathur Rohim.

Korban Angin Gust

Angin kencang yang menelan korban jiwa itu berasal dari awan cumulonimbus atau disebut gust, merupakan angin kencang yang berembus secara tiba-tiba.

 

Meski cuma sebentar, sebelum pukul tujuh pagi itu, angin menyembur kencang di wilayah pesisir Kampung Jabi, RT 02 RW 04 Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam. Berdiri di teras rumahnya, Husna tergegau. Tangkai sapu yang dipegangnya terpelanting. Itu karena bunyi keras dari atap seng yang membuatnya kaget. “brakkk…” begitu Husna menirukan pohon kelapa tumbang mengenai bibir atap rumahnya pada Rabu 20 Juli 2022. 

 

Husna kemudian mencari sumber suara tersebut. “Saya kaget ada bapak-bapak tubuhnya menyandar di pagar seng. Masih pakai helm,” kata Husna ditemui Utopis siang, usai kejadian. Pria yang dimaksud Husna itu adalah Amin, pengendara motor bebek. Pagi itu, dia membonceng putrinya, Andini Putri Aminarti, hendak mengantar ke sekolah. Jalan setapak depan rumah Husna setiap hari Amin lewati. Malangnya pagi itu, mereka berdua tertimpa pohon kelapa. 

 

“Korban [Andini Putri Aminarti] duduk menyamping, seragamnya Pramuka. Jadi jatuh saat ditimpa. Sepertinya kena bagian bahu dan leher,” kata wanita yang mengenakan setelan kaus pink celana pendek itu. “Korban diduga meninggal di tempat, karena saat saya pegang nadi di lehernya, sudah nggak ada (berhenti berdenyut). Ada keluar darah, tapi tidak tahu darimana, karena posisi korban telungkup. Mukanya kena aspal. Tapi oleh warga langsung membawanya ke Puskesmas Jabi,” kata saksi mata. Sedangkan motor yang ditumpangi korban hanya kaca spion yang rusak serta plat nomor kendaraannya bengkok. 

 

Siang itu, Husna dibantu tetangga pelan-pelan memperbaiki atap rumahnya yang tertimpa pohon kelapa. Dua lembar seng diganti. “Kalau kabel-kabel [kabel internet] nunggu orangnya,” kata Husna. Pohon kelapa yang tumbang menimpa anak dan bapak itu panjangnya kurang lebih 10 meter. Bagian atas pohon kondisinya sudah lapuk.

 

“Tadi sudah diimbau oleh perangkat RT bagi yang punya pohon kelapa yang sudah tua untuk dipotong karena sudah ada nyawa yang melayang,” katanya. Di kampung itu, kalau beli tanah, pohon dan tanamannya tak masuk. “Jadi pohon kelapa nya kita beli lagi,” katanya. Seumur Husna yang sudah memasuki kepala empat itu, belum pernah mendengar pohon tumbang yang menimpa orang. “Ada dulu, tapi hanya rumah yang tertimpa,” kataya.

 

Saat kejadian pagi itu,  Anggun, teman sekelas korban di SMA Negeri 15 Batam, usai dari pemakaman sempat mendatangi lokasi kejadian. Air mata gadis berseragam Pramuka ini menitik. Pandangannya kosong, menatap dari kejauhan potongan pohon kelapa yang tumbang menimpa tubuh Andini. “Iya, ini salah satu jalur kami ke sekolah,” katanya sambil berlalu.

 

Kepergiannya ke peristirahatan terakhirnya pun turut diiringi oleh deru kendaraan dan ratusan doa teman-temannya. Dengan mengenakan baju pramuka, ratusan siswa SMAN 15 Batam memadati TPU Kelurahan Sambau.

 

Dani (18), teman Andini, mengaku menjadi pihak pertama dari sekolah yang mengetahui kejadian nahas itu. Waktu itu, ia hendak masuk ke dalam sekolah, kemudian dipanggil oleh seorang wanita yang menyebutkan bahwa salah satu siswa SMAN 15 Batam tertimpa pohon kelapa. “Setelah mendapat informasi itu, saya bersama sekuriti sekolah langsung ke lokasi. Sampai di sana, almarhumah sudah dikelilingi banyak warga,” katanya kepada Utopis.id di TPU Kelurahan Sambau.

 

Dia berkisah, sebagai abang kelas, Andini dikenal sebagai pribadi baik serta ceria. Ia anak yag pandai bergaul serta aktif mengikuti sejumlah kegiatan di sekolah. “Kabar duka ini jelas bikin kami kaget. Tidak cuma teman satu kelas dia saja, tapi satu sekolah merasa sedih,” katanya.

 

Memang pagi itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Hang Nadim Batam, Kepri sudah mengeluarkan peringatan dini cuaca di wilayah Kepri. Dalam rilisnya, sekitar pukul 05.35 WIB itu berpotensi terjadi hujan sedang-lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang di wilayah Kabupaten Karimun, Natuna, Anambas, Batam hingga dapat meluas ke Nongsa, Belakang Padang, Sekupang, Bulang, Galang, Sagulung, Batu Aji, dan sekitarnya. Kepada pengguna jasa transportasi laut dan 

 

Tapi mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Ajal menjemput Andini Putri Aminarti serta dua orang warga Karimun yang tengah bekerja di PT MOS. Angin kencang tiba-tiba menghantam salah satu Pos penjagaan hingga dua pekerja ikut terjatuh ke laut. Satunya sekuriti berinisial SY dan satunya lagi DPM pekerja operator. Tidak hanya itu, di hari yang sama sebanyak 21 rumah juga rusak dihantam angin kencang di Pantai Indah dan Pantai Pelawan, Karimun. 

 

Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Suratman melalui  Forecaster menyampaikan, angin kencang yang menelan korban jiwa itu berasal dari awan cumulonimbus atau disebut gust, merupakan angin kencang yang berhembus secara tiba-tiba. Dikatakan gust jika tiba-tiba kecepatan angin 18,5 km/jam lebih kencang dari angin rata-rata yang bertiup. “Untuk kejadian tadi pagi tercatat angin rata-ratanya 18,5-26 km/jam dan gust 37-48,5 km/jam,” katanya kepada Utopis Rabu 20 Juli 2022. 

 

Menurutnya, sampai akhir Juli ini masih terdapat potensi terjadi hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang terutama pada dinihari hingga pagi hari, hujan tersebut bergerak dari arah Barat menuju Timur (dari Sumatra menuju Kepri). BMKG mengimbau, masyarakat agar selalu waspada adanya potensi cuaca ekstrem, awan cumulonimbus penyebab cuaca ekstrim secara visual berbentuk gumpalan, tumbuh menjulang tinggi dan berwarna gelap.

 

“Diharapkan saat terjadi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, petir dan angin kencang agar tidak beraktivitas di luar ruangan, berhati-hati dalam berkendara, tidak berteduh di bawah pohon, baliho atau bangunan yang rawan roboh,” katanya.

 

 

 

Liputan Eksklusif

Jurnalisme Telaten

Utopis adalah media siber di Kota Batam, Kepulauan Riau. Etos kerja kami berasas independensi dan kecakapan berbahasa jurnalistik.

© 2022 Utopis.id – Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman Utopis.